Home / Tokoh

Jumat, 7 Juni 2024 - 04:39 WIB

Mengenal Sosok Inen Rusnan Fotografer Termuda Dalam Konferensi Asia-Afrika 1955

Inen Rusnan fotografer termuda KAA 1955/ Foto DISPENDA JABAR

Inen Rusnan fotografer termuda KAA 1955/ Foto DISPENDA JABAR

SMKAA- Inen Rusnan lahir pada 02 Agustus 1937 di Sumedang, Jawa Barat. Inen Rusnan sendiri sayangnya belum dapat informasi detail tentang latar belakangnya. Mengutip CNN Indonesia disebut Inen pun sempat banyak interaksi sehingga Inen pun beremu seseorang yang bernaman James pada 1943, saat ia pindah dari Sumedang ke Bandung untuk mendapat pekerjaan.

Berasal dari keluarga sangat sederhana, ayah Inen menjadi asisten sopir bagi seorang Belanda bernama Van de Sande Droop. Sosok itu bermurah hati padanya.Ia dan kakaknya dibantu Can de Sande Droop untuk sekolah. Selepas Van de Sande Droop meninggal, baru Inen bekerja untuk James.

Usianya masih 15 tahun saat itu. Itulah pertama kali ia mengenal fotografi. Ia ditugaskan di kamar gelap. Inen pun belajar mencuci dan mencetak film hitam putih. Dari situ, perlahan ia juga belajar foto. Inen pun sedikit demi sedikit mulai mendapatkan pekerjaan meliput dokumentasi berbagai acara.

Bahkan, Inen pun banyak sekali mencoba memotret berbagai tampilan yang baik untuk disebarluaskan ke Media Massa yang mana beliau menggunakan kamera Leica IIIF yang saat ini bisa ditemukan di Museum Konperensi Asia- Afrika.

Peran Inen Dalam Konferensi Asia-Afrika

Melansir SINDONEWS, saat itu, Inen bertugas menjadi bagian dokumentasi sebagai fotografer. Usianya saat itu baru sekira 17 tahun. Meski berusia muda, Inen saat itu tidak canggung menjalankan tugasnya. Sebab ia sudah terbiasa menjadi fotografer lepas dan mengirim karyanya ke sejumlah media massa di Jawa Barat saat itu. Karena pengalaman itu, Inen didaulat panitia menjadi fotografer pengabadi momen KAA. Panitia tak ragu karena Inen punya pengalaman memotret berbagai kegiatan penting yang melibatkan pejabat. Bermodalkan kamera Leica F3, ia mengabadikan berbagai momen penting kegiatan KAA saat itu. Ada banyak keasyikan yang dirasakannya.

baca juga  Inggit Garnasih, Menemani Sukarno sampai Gerbang Kemerdekaan 

Ia pun bangga karena tidak banyak orang yang punya kesempatan emas seperti dirinya berada di antara para delegasi berbagai negara. “Momen yang paling saya suka pas motret itu adalah saat para kepala negara sedang asyik ngobrol. Itu momen langka,” ungkap pria kelahiran Sumedang, 2 Agustus 1937. Tentu perlu keahlian yang mumpuni untuk memotret momen itu, mengingat kamera yang dipakai tidak secanggih saat ini.

Apalagi jumlah roll film yang dibawa terbatas jumlahnya, yaitu sekira 20 roll. Perlu kejelian dan keahlian untuk menangkap momen. Hasilnya pun harus memuaskan agar tidak mengecewakan panitia dan para delegasi berbagai negara. Hasil foto Inen pun kini mejeng di Museum Konperensi Asia-Afrika. Bahkan banyak dari para delegasi yang membawa hasil foto Inen ke negaranya masing-masing untuk kenang-kenangan.

Lalu sebagai tambahan informasi, menurut Ayo Abdnung disebut Menurut Inen, pada waktu itu hanya sedikit fotografer atau wartawan foto yang mendokumentasikan gelaran tersebut, yang ada hanya James Press Foto, Preanger Studio, dan Johan Bank dari media Antara.Untuk mendokumentasikan KAA tersebut, Inen menggunakan sebuah kamera bermerk Leica F3 buatan Jerman yang menggunakan roll film yang hanya memiliki 36 frame setiap satu roll filmnya.

baca juga  Mochtar Kusumaatmadja, Bapak Hukum Laut Indonesia

“Saat memotret paling sedikit harus menyediakan 10 roll film agar merasa tenang, tapi kalo acaranya sampai malam harus lebih dari itu,” ucap Inen.

Ketika itu, Inen bermodalkan pede (percaya diri.), karena banyak yang bilang, ” Kalau Pak Inen yang motret pasti jadi,” dan karena hal tersebut Inen menjadi Wartawan Foto sekaligus dokumentasi KAA.

“Tapi tidak semua foto-foto KAA itu hasil saya semua, tapi yang lain juga ada, hanya saja saat harus ditanya tentang foto-foto KAA selalu dilempar ke saya,” ujarnya.Sementara itu, Inen menambahkan pada saat memotret tidak berpikiran akan seperti apa karyanya, bahkan hingga dipajang dan diminta hasilnya oleh delegasi berbagai negara.

“Waktu itu hanya kepikiran, jangan sampai hasil fotonya mengecewakan, karena banyak yang meminta foto, tapi yang penting jangan sampai kehilangan momen,” ucapnya.”.

Selain itu saat memotret pada KAA tahun 1955, tata krama juga dipakai karena ada pembekalan sebelum gelaran tersebut, karena tamu yang hadir merupakan pejabat penting dari berbagai negara.

Penulis: Edukator/Senore Arthomy Amadeus

Editor : JT/Muhamad Iqbal Alhilal

Share :

Baca Juga

Tokoh

Peran Penting Roeslan Abdulgani dalam Konferensi Asia-Afrika Tahun 1955

Tokoh

Belajar Perjuangan Bangsa dari Sosok Ali Sastroamidjojo

Tokoh

Sang Arsitek Gedung Merdeka : Wolff Schoemaker

Tokoh

Api Semangat Nelson Mandela di Gedung Merdeka

Tokoh

Inggit Garnasih, Menemani Sukarno sampai Gerbang Kemerdekaan 

Tokoh

Mochtar Kusumaatmadja, Bapak Hukum Laut Indonesia

Tokoh

Mengenal Abah Landoeng Saksi dan Pelaku Sejarah KAA 1955, yang Banyak Berkontribusi untuk Bangsa Indonesia