Home / Feature

Rabu, 15 Mei 2024 - 06:07 WIB

Ternyata Selain KAA 1955, Pernah Diadakan Pula KIAA 1965 Ini Sejarahnya

Konferensi Islam Asia-Afrika di Gedung  Merdeka, tahun 1965. Foto/Perpustakaan Nasional.

Konferensi Islam Asia-Afrika di Gedung Merdeka, tahun 1965. Foto/Perpustakaan Nasional.

SMKAA- Pada Tahun 1965 tepatnya 6-14 Maret, ada sebuah Konferensi baru yang menggerakkan negara Islam untuk Bersatu dan Namanya pun sama seperti Konferensi Asia Afrika. Namun, ditambahkan ada kata “Islam” nya. Maka, apabila disatukan menjadi Konferensi Islam Asia Afrika.

Konferensi Islam Asia Afrika adalah Konferensi untuk seluruh negara Islam yang ada di Asia dan Afrika untuk Bersatu dalam pergerakan perdamaiannya serta menjadi terbentuknya Gerakan Non-Blok yang mana menjadi alternatif bagi negara lain yang tidak memihak kepada Kubu Komunis dan Kubu Liberal yang mana pada zaman itu sedang mengalami perang dingin. KIAA sendiri sebelum terbentuk, beberapa negara sempat adanya pertemuan pendahuluan yang mana sama halnya dengan cerita Sejarah Konferensi Asia Afrika 1955.

Pertemuan tersebut dinamakan Konferensi Pendahuluan yang dilaksanakan pada 06-14 Juni 1964 di Markas Besar Ganefo Senayan( Gelora Bung Karno) dan didalamya ada delapan negara yang menghadiri saat itu yakni Indonesia,Irak,Nigeria,Pakistan,Filiphina,Saudi Arabia,Thailand,dan Republik Persatuan Arab.

KIAA sendiri dihadiri paling tidak oleh 37 negara (Sudewo 1989: 46). Beberapa negara yang mempersiapkan KIAA seperti Republik Persatuan Arab, Pakistan, dan Nigeria datang lebih awal, yakni pada 25 Februari 1965. Mereka bertindak sebagai panitia penanggungjawab. Lalu pada 26 Februari 1965, berlangsung rapat presidium panitia penyelenggara konferensi untuk menetapkan tata tertib konferensi, daftar negara peserta dan peninjau konferensi, serta rangkaian acara konferensi (Warta Bhakti, 27 Februari 1965, tahun LV hlm. 2).

Hari pertama dimana dilaksanakannya 06 Maret 1965, Presiden Soekarno membuka Konferensinya di Gedung Merdeka Bandung dan banyak dari para delegasi menyambut positif dengan amanat yang disampaikan dengan memandang KIAA ini sebagai titik tolak kebangkitan dunia Islam dan langkah awal untuk menyusun sebuah dunia baru.

Dalam konferensi itu pula, secara aklamasi Presiden Soekarno diberi gelar Pahlawan Islam dan Kemerdekaan.Setelahnya, ada beberapa rangkaian acara lainnya seperti membaca Al-quran dan doa sampai pada akhirnya Ketua Panitia KIAA Idham Chalid, menyampaikan pidatonya. Idham Chalid menyampaikan dengan menekankan pentingnya persatuan dalam pergerakan melawan Imperialisme yang mana dikatakan:

Bahwa rakyat Asia Afrika masih tetap menghadapi imperialisme. Tentang alismaalisme harus secepat mungkin kita selesaikan di muka bumi Asia Afrika chususnja dan umumnja di dunia, … Itulah sebabnja kita harus memperkuat persatuan dan solidaritas demi mewujudkan dunia baru jang diinginkan melalui Konperensi Islam Asia Afrika I ini.

Selepas Pembukaan, masing-masing delegasi menyampaikan pandangan umum mengenai persoalan umat Islam di berbagai negara dan Sidang Pleno pertama ini dipimpin oleh Hamid Ahmad Khan dari Pakistan. Acara pleno ini kemudian dilanjutkan dengan memilih pimpinan konferensi. Delegasi dari Irak, H. M. Gailani mengusulkan Indonesia sebagai pimpinan .Pada akhirnya usulan tersebut pun diterima oleh Delegasi-delegasi lain.

Sebagai tambahan, Thailand juga mengusulkan agar Nigeria menjadi bagian dari pimpinan KIAA. Lantaran beberapa negara tersebut menjadi berperan penting dalam mempersiapkan keberlangsungan konferensi ini yang menghasilkan adanya pimpinan seperti Ketuanya Idham Chalid(Indonesia)dan para wakil-wakilnya sepertiHabullah(Republik Persatuan Arab),Alhaji Y.K. Apeba Yakub (Nigeria),Hamid Ahmad Khan(Pakistan),Azis B.Mohammad(Saudi Arabia) dan Ahmad Sjaichu(Indonesia) sebagai Seketaris Jenderal.Berbagai persoalan tersebut selanjutnya akan dibahas lebih lanjut dalam sidang komite yang mana terdiri dari lima komite:

baca juga  Selain Jadi Tempat Menginapnya Delegasi KAA, Hotel Preanger Ternyata Pernah Kedatangan Charlie Chaplin dan Amelia Earthart Lho

1.Komite Politik dan Organisasi.

2.Komite Minoritas

3.Komite Sosial dan Ekonomi.

4.Komite Pendidikan,Da’wah,Kebudayaan,dan Penerangan.

5.Komite Wanita.

6. Komite perlindungan terhadap golongan minoritas Islam.

7.Komite penerjemah hasil komisi 1-7

Diantara kelima ini memiliki pimpinannya masing-masing . Pada hari Ketiga, 08 Mei 1965, selain melanjutkan kegiatan Pleno di hari sebelumnya, ada moment yang menurut Duta masyarakat menyebut adanya ketidaksetujuan dari beberapa anggota tentang diundangnya Uni Soviet dalam kegiatan KIAA I ini.

Tanggapan ini misalnya disampaikan oleh delegasi Pakistan dan Republik Rakyat Cina. Namun, setelah menjelaskan bahwa beberapa bagian wilayah Uni Soviet juga merupakan bagian dari Asia dan Afrika, maka persoalan ini pun dianggap selesai. Beberapa peserta juga mempermasalahkan kenapa Saudi Arabia tidak hadir dalam konferensi yang penting ini.

Sementara itu, hari keempatnya, 09 Mei 1965, menjadi salah satu tonggak penting bagi pengakuan Indonesia di dunia internasional. Sebab, para delegasi-delegasi yang hadir saat itu menobatkan Presiden Sukarno sebagai Pahlawan Islam dan Kemerdekaan atau Champion of Islam and Freedom.

Sidang Paripurna digelar pada Hari kedepalan, 13 Mei 1965, dimana telah menghasilkan sebuah deklarasi yang dikenal “Deklarasi Konferensi Islam Asia Afrika” . Deklarasi tersebut dibacakan oleh Supeni Natakusumah dari Indonesia.Selain itu, di hari itu juga diberikan kesempatan kepada delegasi dari Uni Soviet untuk memyampaikan umumnya. Mufti Zijauddin Baba Khan sebagai delegasinya saat itu menyampaikan pandangannya dengan bahasa Arab yang fasih:

Konperensi Islam Asia Afrika I ini merupakan dorongan jang kuat untuk memperhebat perlawanan terhadap neo-kolonialisme dan sekaligus merupakan alat pemersatu Asia Afrika. Saja bangga atas usaha Indonesia melaksanakan konperensi dan semoga presiden Sukarno senantiasa dilimpahkan taufik dan hidajah.

Setelah delegasi Soviet memberikan pandangan, acara ditutup oleh ketua konferensi dengan membaca Al-Fatihah dan pengetukan palu sebanyak tiga kali. Lalu pada 12.45 WIB, Ahmad Sjaichu mengadakan juma pers dan mengatakan bahwa KIAA telah selesai dengan sukses (Duta Masyarakat, 16 Maret 1965). Acara seremonial penutupan kemudian dilaksanakan pada 14 Maret 1965 di stadio utama Gelorang Bung Karno Senayan Jakarta.

KIAA I merupakan peristiwa penting yang menunjukkan bahwa Indonesia berusaha menghapuskan penjajahan. Fokus umumnya pada negara-negara berpenduduk mayoritas Islam – meski ada juga yang tidak – di benua Asia Afrika.

Pemerintah Indonesia saat itu telah mengajak umat Islam Indonesia untuk meluaskan wawasannya membina kekuatan di benua Asia dan Afrika. Terlihat juga usaha politik luar neger Indonesia saat itu yang menampakkan diri sebagai negara non-blok, berpolitik bebas aktif, tidak saja berhubungan dengan negara-negara komunis, tetapi juga mengadakan hubungan diplomatik dengan negara-negara Islam.

baca juga  Upacara Penurunan 109 Bendera Negara-Negara Peserta KTT Asia Afrika danBendera PBB Berlangsung Secara Hikmat

Suasana Sidang KIAA

Ada satu cerita yang dialami oleh Siti Baroroh Dimana beliau ditunjuk pada saat itu sebagai Ketua Komite Pendidikan dan Wanita yang mana menurutnya sidangnya sangat lancar yang mana menurut Sumber Organisasi Aisyiyah mengatakan Ada 2 (dua) keputusan penting yang dihasilkan oleh Komite Empat, yakni: pertama, akan mendirikan Pusat Tabligh Islam, dan; kedua, akan mendirikan Pusat Penerangan Islam yang bertugas untuk (a) memajukan dakwah Islam, (b) memupuk dan mengembangkan kebudayaan Islam, dan (c) mengadakan tukar-menukar mengenai kegiatan dan keadaan umat Islam di negara-negara Asia-Afrika. Pusat Tabligh Islam dan Pusat Penerangan Islam ini nantinya berada di bawah naungan Organisasi Islam Afrika Asia.

“Keputusan ini tentu sangat menggembirakan ummat Islam semua, karena kita akan memiliki suatu badan international jang akan mengurusi segala sesuatu mengenai Da’wah. Dengan demikian negara jang telah madju dan kaja akan dapat membantu jang lemah dan kurang mampu dalam pembeajaan,” tulis Siti Baroroh (hlm. 8).

Sementara itu, Komite Lima diikuti oleh perwakilan dari kaum perempuan. Mereka berasal dari Nigeria, Irak, India, Jepang, Republik Rakyat Tiongkok, dan Indonesia. Ada 18 peserta yang mengikuti Komite Lima.

Menurut Siti Baroroh, prasaran yang disampaikan delegasi Indonesia menjadi pokok pembicaraan dalam sidang komite ini. Pembicaraan juga mencakup kondisi kemajuan perempuan di berbagai negara delegasi. Dalam pengamatannya, tingkat kemajuan perempuan Indonesia tidak kalah dibandingkan dengan negara-negara Asia-Afrika lain. Bahkan, dalam beberapa bidang, perempuan Indonesia lebih maju, seperti dalam bidang kegiatan sosial, organisasi, dan pendidikan.

Sayangnya, Komite Lima belum mencapai kesepakatan bersama dalam rangka memajukan perempuan Islam di Asia-Afrika. Oleh karena itu, ada beberapa keputusan yang nantinya bisa ditindaklanjuti oleh para delegasi. Pertama, KIAA mengikutsertakan perempuan dalam segala kegiatannya. Kedua, KIAA mendorong kemajuan perempuan Islam. Ketiga, memajukan posisi perempuan Islam di negara-negara Asia-Afrika.

Keempat, mengusahakan agar lebih banyak kesempatan yang diberikan kepada perempuan untuk giat dalam segala bidang, terutama bidang pendidikan, dakwah, dan kebudayaan. Kelima, KIAA mengusahakan dengan gigih agar perempuan Islam Asia-Afrika mendapatkan hak-haknya, seperti hak memilih dan dipiilih dalam pemilihan umum, hak perlindungan dalam hal perkawinan dan perceraian. Keenam, mendorong agar perempuan Islam diberi hak ikut salat di masjid-masjid, bahkan mendapatkan tempat yang khusus untuk berjamaah sendiri. Ketujuh, KIAA akan mendirikan Organisasi Wanita Islam Afrika Asia yang bernaung di dalam organisasi Islam Afrika-Asia.

Keputusan ini, menurut Siti Baroroh, sebenarnya sudah diterapkan di Indonesia. Oleh karenanya ia menuturkan, “dalam hal ini kita harus berpangkal kepada wanita Islam sdr2 kita di Afrika ataupun Asia jang masih terbelakang, bahkan djauh dibelakang kita. Sebab belum semua negara2 Afrika Asia mengikut sertakan para wanita dalam segala lapangan”.

Penulis: Edukator/ Senore Arthomy Amadeus

Editor : JT/Muhamad Iqbal Alhilal

Share :

Baca Juga

Feature

Latar Belakang, Lika-Liku dan Hasil Konferensi Asia-AFrika 1955

Feature

Relevansi Nilai Konferensi Asia-Afrika di Masa Pandemi

Feature

Relevansi Nilai-Nilai Dasasila Bandung Sebagai Solusi Bagi Permasalahan di Tengah Konflik Kawasan Dunia

Feature

Jarang Diketahui Orang, Ternyata Bandung Juga Pernah Jadi Tuan Rumah Konferensi Wartawan Asia-Afrika