Home / Feature

Jumat, 3 Mei 2024 - 15:11 WIB

Latar Belakang, Lika-Liku dan Hasil Konferensi Asia-AFrika 1955

Presioden Sukarno, sedang melakukan pidato dalam pembukaan KAA 18 April1955 /Foto; IPPHOS.

Presioden Sukarno, sedang melakukan pidato dalam pembukaan KAA 18 April1955 /Foto; IPPHOS.

SMKAA-Sobat, ada yang tahu tidak di tanggal 18-19 itu acara Konferensinya ngapain saja? Dan benarkah Konferensi tersebut sempat tidak jadi? Mari kita mengulik Sejarah tentang Konferensi Asia Afrika.

LATAR BELAKANG

Pada saat terjadi Konferensi Bogor di tahun 1954 tepatnya bulan Desember, para peserta Konferensi Kolombo seperti Indonesia,India, Burma, Ceylon,dan Pakistan telah datang ke Bogor dan mereka membahaskan tentang teknisi atau rancangan tentang acara Konferensi Asia Afrika itu sendiri seperti dimulai para kelima negara tersebut akan menjadi sponsor di Konferensi ini serta negara manakah yang mau diundang ke Konferensi ini. Usulan dari Indonesia adalah mengundang semua negara-negara yang ada di Asia maupun di Afrika.

Namun, ada beberapa negara yang sebenarnya sempat menjadi perdebatan yakni undangan antara Tiongkok (RRC) dan Tiongkok(Taiwan), Israel, 2 Korea, dan Mongolia. Apabila Konferensi tersebut mengundang RRC yang menurut The Bandung Connection bahwa Pakistan mengkhawatirkan akan terjadinya walkout  beberapa negara dari forum.

Sayangnya, Burma sangat tidak setuju dan mengancam tidak akan menjadi Sponsor Konferensi serta tidak jadi partisipan. Alhasil, semua kelima negara tersebut menyepakati mengundang RRC namun tidak mengundang Taiwan.Lalu, India mengusulkan untuk mengundang Israel yang membuat Indonesia dan Pakistan tidak akan berpartisipasi serta dikhawatirkan negara-negara Arab tidak dapat hadir di Konferensi tersebut.

Sehingga, tidak mengundang Israel dan yang menjadi pertanyaan mengapa 2 Korea tidak diundang ke Konferensi Asia Afrika? jawabannya menurut The Bandung Conference: Triumph of Diplomacy karya Sugwan Hang disebut Alasan mengapa tidak mengundang Kedua Korea disebabkan kedua negara tersebut tensinya sedang tinggi yang mana tidak adanya perjanjian damai serta beberapa tahun terakhir sebelum Konferensi telah terjadinya Perang Korea.

Hal tersebut yang membua tidak diundang dan kedua Vietnam diundang disebabkan baik Vietnam Utara maupun Selatan sudah adanya perjanjian damai yang meyakini mempermudah mereka untuk bisa mengikuti konferensi tersebut.

Bagaimana dengan Mongolia? Jawabannya Mongolia tidak mengikuti Konferensi tersebut dan walaupun tidak ikut, Mongolia telah mengirimkan surat kepada Seketaris Jenderal Konferensi Roeslan Abdulgani yang menurut A Study of The History of Mongolian-Indonesian Friendly Relations karya Khorloo Baatakhuur disebut:

Sejak pertengahan abad ke-20, kondisi eksternal yang memungkinkan secara historis mulai terbentuk, yang meletakkan dasar bagi hubungan bilateral. Pasca Perang Dunia II, negara-negara Asia dan Afrika yang telah memperoleh kemerdekaan dari kekuasaan kolonial menjadi faktor baru dalam hubungan internasional. Sebagian besar negara-negara ini mengupayakan hidup berdampingan secara damai dengan negara lain. Aspirasi ini tercermin dalam lima prinsip Pancha-Shila yang dicanangkan pada tahun 1954 dalam hubungan antara Tiongkok dan India. Kelima prinsip tersebut antara lain penghormatan terhadap keutuhan dan kedaulatan wilayah, non-agresi, kesetaraan dan saling menguntungkan, serta hidup berdampingan secara damai. Konferensi 29 Negara Asia dan Afrika yang diadakan pada bulan April 1955 di Bandung, Indonesia, mempunyai tempat khusus dalam sejarah hubungan internasional. Para kepala negara dan menteri luar negeri Asia dan Afrika, yang merupakan rumah bagi lebih dari separuh populasi dunia, akan bertemu untuk pertama kalinya untuk membahas peran kedua benua dalam politik dunia, anti-kolonialisme, kerja sama ekonomi dan budaya, serta kemanusiaan. hak dan hak asasi manusia. Aneh sekali

Peristiwa dalam geopolitik dunia yang disepakati 10 prinsip pengaturan mandiri dan hubungan internasional Bandung. Meskipun Republik Rakyat Mongolia tidak berpartisipasi secara resmi dalam konferensi tersebut, negara-negara sosialis Asia menyambut baik hasil konferensi tersebut, memberikan perhatian khusus untuk menjalin hubungan dengan organisasi sosial Asia dan Afrika lainnya berdasarkan prinsip 10 Bandung dan mendapatkan dukungan mereka. Sejak awal sangat didukung.

Lalu, menyebutkan bahwa Mongolia mengirimkan surat yang berbunyi:

baca juga  Mengenal Abah Landoeng Saksi dan Pelaku Sejarah KAA 1955, yang Banyak Berkontribusi untuk Bangsa Indonesia

“Atas nama rakyat Mongolia, Presidium Parlemen Republik Rakyat Mongolia mengucapkan selamat yang sebesar-besarnya kepada para peserta Konferensi Asia Afrika. Konferensi Asia-Afrika bertujuan untuk meredakan ketegangan dalam hubungan internasional, memperkuat perdamaian dan keamanan universal di antara masyarakat, Rakyat Mongolia sangat yakin bahwa hal ini pasti akan membantu negara-negara di dunia.

Melindungi kebebasan dan kemerdekaan nasional seluruh rakyat Asia dan Afrika. Saya berharap para peserta Konferensi Asia-Afrika berhasil dalam upaya memperkuat perdamaian antar bangsa.”

Saatnya kita kembali ke cerita, maka setelah diadakan Konferensi Bogor tersebut telah membuahkan hasil yang dinamakan Joint Statement yang pada kahirnya kelima negara tersebut menyepakait adanya Konferensi yang melibatkan Asia dan Afrika.

PEMBUKAAN SIDANG DAN BANDUNG WALK

Pada Tanggal 18 April 1955, tibalah saatnya Konferensi Asia Afrika pun dimulai dimana para Delegasi datang dari berbagai negara dengan berbeda lapangan terbang seperti Perdana Menteri Tiongkok Zhou En Lai di Bandara Kemayoran, sedangkan Delegasi Kamboja datang ke Indonesia melalui Bandara Andir(sekarang Bandara Husein Sastranegara). Lalu, di hari itupun banyak dari para delegasi datang ke daerah sekitar Gedung merdeka dan mereka melakukan berjalan kaki menuju Gedung Merdeka diiringi sambutan masyarakat yang suka disebut Bandung walk.

baca juga  Perjalanan Sejarah Gedung Dwi Warna Dari Masa ke Masa

Lalu, tibalah di hari itu pun dilaksanakan Sidang Pembukaan yang dibuka secara langsung oleh Presiden Republik Indonesia Sukarno menyampaikan pidatonya yang berjudul “Let a new Asia and a new Africa be born” yang membuat semua partisipan bergema,bergembira,dan Beri tepuk tangan yang meriah. Lalu, setelah itu diumumkan secara aklamasi bahwa Ketua Konferensi adalah sang Perdana Menteri Indonesia Ali Sastroamidjodjo. Lalu, setelahnya ada pidato dari berbagai negara.

Namun, sempat memanas ketika pada saat Sidang Pleno ke-2 dimana Delegasi Iraq menyampaikan  peringatan untuk mewaspadai adanya Gerakan Komunis dan berdirinya negara Republik Rakyat Tiongkok. Namun, hal tersebut membuat seluruh delegasi tidak menyukainya.

Setelahnya, PM Zhou En Lai memohon kepada Ketua Konferensi melalui Stafnya untuk diberikan Pidato pada beliau dan akhirnya disetujui. Lalu, beliau menyampaikan pidatonya yang dimana menjadi perhatian dunia pada saat itu.

Setelah pidato tersebut, maka dilaksanakanlah beberapa sidang komite dan laninnya yang menyangkut tentang KAA seperti adanya sidang Komite Politik, Ekonomi, dan Kebudayaan. Ketiga sidang tersebut memiliki pembahasan Isu tentang Asia Afrika masing-masing dan ketiga diketuai oleh beberapa tokoh seperti Ali Sastroamidjodjo(Politik), Rooseno (Ekonomi),dan Mohammad Yamin (Kebudayaan).

Jadi, Sidang Ekonomi dan Kebudayaan telah selesai pada saat tanggal 23 April 1955. Namun, berbeda dengan Sidang Politik yang mana sempat diperpanjang waktunya oleh Ketua tersebut disebabkan sempat terjadi perdebatan panas tentunya disebabkan masalah Politik.

Sehingga, membuat India selaku Partisipan Sidang Komite terpaksa keluar dari forum diiringi dengan Amarah yang tak terkendali. Alhasil, Delegasi India dan Sri Lanka sempat berdebat panas diluar forum yang pada akhirnya ketika Ali Sastroamidjojo ini mampir kepada mereka sehingga mereka meredam dan tidak dilanjut perdebatannya.

HASIL SETELAH SIDANG

Setelah sidang Komite, maka pada tanggal 24 April 1955 sebagai penutup dari Konferensi Asia Afrika ini dinyatakan mendeklarasikannya Semangat Bandung atau yang dikenal sebagai “Dasasila Bandung”. Maka, Prinsip tersebut digunakan di berbagai elemen internasional yang bertujuan untuk perdamaian serta menjadi negara bebas aktif dari berbagai Ideologi salah satu yang terkenal setelah Konferensi Asia Afrika ini yang menjadi cikal bakal terbentuknya Gerakan Non Blok yang tidak memihak kepada manapun ideologi ditambah Dasasila saat ini digunakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai prinsip kedamaian.

Penulis: Edukator/ Senore Arthomy Amadeus

Editor : JT/ Muhamad Iqbal Alhilal

Share :

Baca Juga

Feature

Jarang Diketahui Orang, Ternyata Bandung Juga Pernah Jadi Tuan Rumah Konferensi Wartawan Asia-Afrika

Feature

Ternyata Selain KAA 1955, Pernah Diadakan Pula KIAA 1965 Ini Sejarahnya

Feature

Relevansi Nilai-Nilai Dasasila Bandung Sebagai Solusi Bagi Permasalahan di Tengah Konflik Kawasan Dunia

Feature

Relevansi Nilai Konferensi Asia-Afrika di Masa Pandemi