Home / Berita / Journativist

Minggu, 19 Maret 2023 - 16:00 WIB

Gelar Seminar Nasional di Gedung Merdeka, MKAA Tegaskan Dukung Pelestarian  Terhadap Aset Diplomasi

Nampak  Dua Orang Narsumber Aji Bimarsono  dan Miftahul Falah  dalam seminar nasional di Gedung Merdeka, Minggu (19/03/2023) Foto: Muhamad Iqbal Al Hilal


JT- Pelaksanaan seminar nasional di Gedung Merdeka pada, Minggu (19/03/2023) berlangsung dilaksanakan secara sukses dengan dihadiri oleh sejumlah tokoh baik dari Kementerian Luar Negeri maupun oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Pada kesempatan ini Duta Besar sekaligus perwakilan dari Direktorat Jenderal Informasi dan Informasi Publik, Teuku Faizasyah juga menyampaikan sambutan guna mendukung jalannya seminar tersebut.

” Untuk menyambut peringatan 68 tahun Konferensi Asia-Afrika yang juga bertepatan dengan 43 tahun Museum Konperensi Asia-Afrika. Selain itu pada kesempatan ini saya menekankan akan pentingnya gedung ini bukan hanya sekedar digunakan untuk Konferensi Asia-Afrika melainkan, juga sangat bersejarah dan simbol dari masa kolonial,” ucap Teuku Faizasyah dalam Seminar Nasional di Gedung Merdeka, Minggu (19/03/2023).

Selain dihadiri oleh para peserta secara tatap muka di Ruang Utama Gedung Merdeka, acara ini juga dihadiri oleh lebih dari 100 orang peserta secara virtual melalui Zoom.

Pada sesi pertama Seminar Nasional Gedung Merdeka dan Diplomasi Perdamaian Dunia di isi oleh pemaparan dari Miftahul Falah, Dosen Prodi Ilmu Sejarah, Universitas Padjajaran. Dengan tema ” Preanger Planters dan Sociëteit Concordia,”.

” Di gedung ini lah pribumi kita pernah disetarakan dengan hewan (anjing), karena gedung ini digunakan sebagai berbagai kegiatan dalam politik, dan pemerintahan.” ujar Miftahul Falah dalam pembukaan materi di Seminar Nasional, di Gedung Merdeka, Minggu (19/03/2023).

Dalam kegiatan ini juga disampaikan oleh Miftahul bahwa Sociëteit Concordia tidak tiba-tiba di dirikan disini namun melalui proses yang panjang dan berkaitan dengan para Preanger Planters.

” Ini adalah para pengusaha Belanda  di Priangan, ini adanya di Sukabumi di Sinagar, karena lokasinya yang cocok untuk perkebunan,” papar, Miftahul Falah dalam Seminar Nasional di Gedung Merdeka, Minggu (19/03/2023).

baca juga  Peringati dua Event Besar, MKAA Gelar Pameran Gedung Merdeka dan Diplomasi Perdamaian Dunia

Miftahul juga menyinggung bahwa asal istilah ‘Bandung Kota Kembang’ bukan berasal dari istilah buruk dalam hal ini Saritem, melainkan banyaknya pedagang yang menjajakan bunga.

Usai Miftahul Falah, menyampaikan materi pengantar, Aji Bimarsono, Ketua Paguyuban Bandung Heritage menyampaikan materi berkaitan dengan Gedung Merdeka dari Masa ke Masa.

” Gedung ini menjadi salah satu bangunan yang tua di Bandung, gedung ini jadi cikal bakal nantinya Jalan Braga. Sebelumnya di tahun 1879 perkumpulan Concordia menggunakan De Vries sebagai tempat perkumpulan sampai akhir di tahun 1895 dibangun Sociëteit Concordia,” kata Aji Bimarsono, pada acara seminar nasional di Gedung Merdeka, Minggu (19/03/2023).

Aji juga menampilkan berbagai denah, peta serta sejumlah foto perkembangan Gedung Merdeka dari masa ke masa termasuk era perkembangan bangunan arsitektural era Wolff Schoemacker dan AF. Aalbers.

Sekedar informasi Sociëteit Concordia sendiri bukanlah ruangan yang kini dikenal sebagai Gedung Merdeka, karena sebetulnya  gedung yang dipakai oleh Concordia sekarang digunakan oleh Museum Konperensi Asia-Afrika.

Sementara itu Gedung Merdeka yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada masa kini adalah bangunan Bandoeng Schouwburg yang didirikan oleh Schoemacker ketika renovasi tahun 1921.

Dilain sisi lengkungan yang berada di wilayah kepemilikan Kementerian Luar Negeri direnovasi yang kita bisa lihat hari ini merupakan hasil renovasi oleh AF. Aalbers tahun 1940.

Pada sesi pertama seminar ini juga disinggung mengenai penggunaan gedung ini sebagai tempat dalam sidang-sidang Dewan Konstituante yang mana sangat jarang sekali diketahui oleh publik bahkan dalam buku-buku sejarah.

Pada sesi kedua seminar, Reiza, D. Dienaputra kemudian menjadi pembicara dengan tema ‘ Gedung Merdeka dan Bandung Sebagai Ibu Kota Asia- Afrika.’

baca juga  MKAA Sukses Gelar Jelajah Malam 2023:  Coba Ungkap Serba-Serbi Di Balik Layar Konferensi Asia-Afrika 1955

Reiza merupakan Guru Besar Ilmu Sejarah di Universitas Padjajaran, Reiza menjelaskan secara jelas mengenai peranan Bandung sebagai ibu kota Asia- Afrika.

” Bandung jadi ibu kota itu tidak akan pernah terjadi jika orang-orang Belanda belum ada di sana, bisa saja tidak akan ada Institut Teknologi Bandung justru akan ada Institut Teknologi Cianjur,” kata Reiza dalam seminar nasional sesi kedua di Gedung Merdeka, Minggu (19/03/2023).

Sementara itu pemateri terakhir yakni Kepala Museum Konperensi Asia-Afrika, Dahlia Kusuma Dewi menjelaskan Museum KAA – Gedung Merdeka ” Kini dan yang Akan Datang.”

Dalam penyampaian materi, Dahlia menyebutkan bahwa museum berkomitmen untuk terus maju dan terus berinovasi kedepannya termasuk diharapkan Gedung Merdeka yang berada di bawah pengelolaan Pemprov Jabar, dialihkan kepada Kementerian Luar Negeri agar tidak adanya tumpang tindih perawatan.

Meski demikian, Dahlia mengucapkan banyak terima kasih atas kerjasama antara Pemprov Jabar dengan MKAA sejak tahun 1980. Selain itu, Kepala Museum menyampaikan perkembangan gedung yang berada di pusat Kota Bandung ini mulai digunakan sebagai Bappenas, MPRS, Pemprov Jabar sampai kemudian digunakan sebagai sebuah museum.

” Saya mengucapkan terima kasih atas kerjasamanya Pemprov dan MKAA dalam merawat gedung yang bersejarah ini, Mau tidak mau kami harus bersama menjaga cagar budaya ini dan kami juga memiliki banyak inovasi yang tengah direncanakan terutama dalam menyambut peringatan 70 tahun Konferensi Asia-Afrika di tahun 2025 mendatang,” papar Dahlia dalam sesi dua, seminar nasional di Gedung Merdeka, Minggu (19/03/2023).

Reporter: Muhamad Iqbal Al Hilal

Editor    : Muhamad Iqbal Al Hilal

Share :

Baca Juga

Berita

Memperingati 66 Tahun Konferensi Asia Afrika, Museum Konperensi Asia Afrika Hadirkan Logo Bertema Humanity & Solidarity

Berita

Acara Penutupan Peringatan 67 Tahun KAA: Revitilisasi Semangat Pasca Pandemi

Berita

Bakti Sosial Donor Darah bersama Museum Konperensi Asia Afrika

Berita

Diskusi “Protection of Indonesian Citizen Abroad: The Other Side of Indonesian Diplomacy” Bersama Sekdilu Angkatan 41 Kementrian Luar Negeri RI

Berita

Perdana Pasca Pandemi, Peringatan 67 Tahun KAA Mengusung Tema Recover Together, Recover Stronger

Berita

‘Museum untuk Semua’, MKAA Terbitkan The Bandung Connection dalam Bentuk Braille

Berita

Jamuan Teh Petang Bersama Saksi Sejarah KAA 1955: Muhammad Yamin

Berita

Bedah Buku: Tadarus The Bandung Connection