Home / Sejarah

Jumat, 17 Mei 2024 - 07:23 WIB

Selain Jadi Tempat Menginapnya Delegasi KAA, Hotel Preanger Ternyata Pernah Kedatangan Charlie Chaplin dan Amelia Earthart Lho

Hotel Grand Preanger/Foto: Kemendikbudristek.

Hotel Grand Preanger/Foto: Kemendikbudristek.

SMKAA-Hotel Preanger merupakan salah satu hotel tertua di Bandung setelah Savoy Homman yang sangat dekat sekali 0 kilometer Kota Bandung dan penginapan ini sendiri memiliki sejarah yang menarik dimana tempat menjadi saksi bisu adanya peristiwa pergerakan perdamaian Dunia dan adanya Bintang tamu terkenal dari Amerika di masa sebelum Perang Dunia II.

Nama Preanger sendiri berasal dari Kata “ Priangan” dengan plesetannya berbahasa Belanda. Hotel ini didirikan pada tahun 1897 yang mana berawal dari toko Roti yang banyak disinggahi oleh para Preanger Planters atau para pemilik perkebunan sering menghabiskan akhir pekan mereka di Bandung. Sayangnya, toko Roti tersebut mengalami kebangkrutan sehingga ada seseorang yang bernama W.H.C Van Deeterkom mengubah toko roti tersebut menjadi sebuah hotel yang diberi nama Thiem.

Jika dilihat, Hotel Thiem secara arsitekturnya tidak seperti saat ini yang sering dijumpai oleh pariwisata yang mana masih berbentuk sederhana dan beberapa saatnya diubah menjadi Hotel Preanger.  Pada akhrinya tahun 1920, nama hotel tersebut diubah menjadi Grand Hotel Preanger. Kala itu , hotel tersebut merupakan hotel yang termewah dan selama lebih dari seperempat abad menjadi kebanggan orang-orang Belanda di Kota Bandung.

Sejak tahun 1929, hotel ini pun telah dirancang ulang oleh seorang Dosen dari Technische Hoogeschool (ITB) dan merupakan Arsitek terkenal Bandung C.P. Wolff Schoemaker dengan Sukarno(kelak menjadi Presiden Republik Indonesia) yang merupakan muridnya dan beliaulah yang menjadi juru gambar. Sebagai tambahan, hotel ini pun sempat dimasukkan sebagai tempat rekomendasi bagi para  turis asing yang ingin berkunjung ke Asia melalui Commercial traveles’ guide to the far east.

APA  BENAR CHARLIE CHAPLIN PERNAH MENGINAP DI HOTEL PREANGER?

baca juga  Peringati 68 Tahun KAA, 109 Bendera Negara KTT Asia Afrika dan Bendera PBB Dikibarkan di Kompleks Gedung Merdeka

Betul sahabat, Charlie atau Sir Charles Spencer Chaplin seorang Komedian asal Inggris pernah berkunjung ke Bandung dan menginap di Hotel Preanger. Mengutip Bandung Bergerak, Chaplin yang kala itu datang bersama adiknya, Sydney, serta seorang pelayan keturunan Jepang mampir ke Kota Bandung di sela perjalanannya melintasi Jawa menuju Bali. Chaplin menginap semalam di Hotel Preanger.

Kemunculannya saat makan malam di hotel tersebut menggemparkan khalayak dan sebagai informasi tambahan bahwa menurut berita koran De Locommotief menyebut Chaplin mengaku terkesan dengan Bandung, dengan bangunan-bangunan modern di sana. Andai tidak terburu-buru, dia pasti akan menyempatkan diri berkeliling. “Aku akan kembali” ujar dari Charlie Chaplin pada saat diwawancara.

Charlie pun membuktikan janji yang ia kemukakan sebelumnya dengan menurut Baataviaasch Niuewsblad, menyebut Charlie Chaplin datang kedua kalinya ke Hindia Belanda dan beliau bersama istrinya Paulette Goddard dan Ibunya Goddard serta seorang pramugari Jepang yang mana pesawat yang mereka tumpangi hanyalah mereka sendiri dengan pesawat bernama Qantas yang mulai terbangnya dari Singapura.

Dalam lawatannya pertama ke Hindia Belanda, dia hanya menginap semalam. Chaplin bersama adik dan pelayannya makan malam di  Hotel Preanger . Dia menyukai gedung hotel tersebut. Andai tidak mengejar waktu, dia pasti akan menyempatkan diri berkeliling. “Aku akan kembali,” kata dia, dikutip dari De Locomotief, 1 April 1932, Rabu malam sekitar pukul 23.00, Chaplin dan rombongannya melanjutkan perjalanan berkendara menuju Jogja. Dia menyempatkan lewat Garut.

baca juga  Perjalanan Sejarah Gedung Dwi Warna Dari Masa ke Masa

Tiba di Jogja, pada Kamis sore. Pada Jumat, 1 April 1932, Chaplin mengunjungi Candi Borobudur. Kunjungannya ke candi tersebut dilakukan diam-diam. Nyaris tidak ada yang menyadari aktor film terkenal tersebut sedang menikmati keindahan candi tersebut. Chaplin sempat merekam Borobudur dalam film pita seluloid yang dibawanya.

Kabar kedatangan Chaplin ke Surabaya sudah tercium. Warga banyak yang kecele menunggunya di Stasiun Gubeng. Nyatanya Chaplin yang tiba berkendara mobil langsung menuju Hotel Orion. Di hotel tersebut, Chaplin sempat diminta berbicara untuk Surabayasche Radio Vereeniging, yang ruang siarannya berada di aula hotel tempat menginapnya.

Peran Hotel Preanger Dalam Konferensi Asia Afrika

Pada tahun 1955,  Dimana Bandung telah terjadi sebuah peristiwa yang mana menjadi sebuah pergerakan bagi pejuang kemerdekaan dan kedamaian Asia Afrika serta lahirnya semangat Bandung yakni Konferensi Asia Afrika. Hotel Preanger memiliki peran penting dalam terlaksananya perisitwa tersebut Dimana banyak para delegasi dari beberapa negara partisipan telah disediakannya tempat penginapan oleh hotel tersebut sebagaimana diketahui bahwa Presiden Mesir Arab Gamal Abdel Nasser dan Raja Arab Saudi Faisal bin Abdulaziz telah menginap di  Hotel Preanger yang legendaris. Akan tetapi hotel ini kemudian berganti nama menjadi Grand Hotel Preanger sejak kepemilikannya diambil alih oleh Prama Hotels.

Gimana nih Sobat, apakah udah tertarik untuk datang dan berkunjung ke Hotel Grand Preanger.!!!

Penulis: Edukator/ Senore Arthomy Amadeus

Editor : JT/ Muhamad Iqbal Alhilal

Share :

Baca Juga

Sejarah

Museum Preanger Penghormatan Untuk CP.Wolff Schoemacker

Sejarah

Fakta Menarik Seputar Konferensi Asia- Afrika 1955

Sejarah

Udah Tahu Belum? Ini Sejarah Panjang dari Hotel Savoy Homann yang Sempat Jadi Tempat Menginapnya Delegasi KAA 1955

Sejarah

Selain Melahirkan Gerakan Non Blok, KAA 1955 Ternyata Pernah Ada Konferensi Mahasiswa Asia-Afrika, Ini Fakta Sejarahnya

Sejarah

Udah Tahu Belum? Ini Perjalanan Sejarah Panjang Gedung Merdeka dan MKAA dari Masa ke Masa

Sejarah

Wisata Alam Bandung di Masa Kolonial

Journativist

Jejak Kekayaan Budaya Indonesia: Dari Daratan hingga Lautan, Dari Bhineka Tunggal Ika hingga Banda Neira

Sejarah

Perjalanan Sejarah Gedung Dwi Warna Dari Masa ke Masa