Home / Sejarah

Kamis, 18 April 2024 - 20:21 WIB

Udah Tahu Belum? Ini Perjalanan Sejarah Panjang Gedung Merdeka dan MKAA dari Masa ke Masa

Societiet Concordia sekitar tahun 1895/ KITLV.

Societiet Concordia sekitar tahun 1895/ KITLV.

SMKAA-Sobat,Emang benar ya kalau Gedung Merdeka ini selain dipakai Konferensi itu pernah dipakai yang lain? Biar Penasarannya bisa terbukti, maka mari teman-teman untuk ikut cerita yang mau dibawa disini.

Gedung apa itu?

Gedung Merdeka merupakan Gedung yang dimana dahulu pada tahun 1955 digunakan sebagai pergerakan perdamaian dunia serta menjadi cikal bakalnya Gerakan Non Blok yaitu Konferensi Asia Afrika yang dibentuk oleh lima negara sponsor yakni Indonesia,Burma(Myammar),Ceylon(Sri Lanka), India ,dan Pakistan. Sehingga, 29 negara Asia Afrika pada saat itu datang ke Bandung untuk menghadiri acara tersebut serta terbentuknya Dasasila Bandung.

 Namun, Gedung ini sebelumnya bukan Gedung Merdeka, namanya melainkan Societet Corcondia yang dibangun pada tahun 1895 oleh Perkumpulan Concordia sesuai dengan nama bangunan itu sendiri. Sampai di tahun beberapa 1940 sempat direnovasi untuk terakhir kalinya  oleh arsitektur yang paling terkenal  saat itu yakni Charles Prosper Wolff Schoemaker

Arsitek keturunan Belanda yang juga merupakan Rektor Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH) sekarang ITB, sekaligus  dosen dari Presiden Sukarno semasa kuliah di  Bandung. Selebihnya mari teman-teman untuk bisa melihat gambaran Gedung Societet Corcondia.

Societeit Corcondia

Gedung Societeit Corcondia merupakan Gedung dimana tempat berkumpulnya para bangsawan Belanda serta para kaum Elite Belanda yang terbentuk dari suatu organisasi sesuai dengan nama Gedung itu sendiri. Arti Societeit yakni Perkumpulan dan Concordia yakni Harmoni . Maka digabungkan menjadi Gedung “ perkumpulan Harmoni” . Gedung Societeit Corcondia ini didirikan pada Tahun 1895 menurut Mooie Bandung oleh seorang Residen yang bernama Pieter Stijhoff dan sebelum dimiliki oleh perkumpulan tersebut, gedung ini dimiliki oleh seorang Toko Kelontong asal Tiongkok yang pada akhirnya dibeli oleh Perkumpulan tersebut. Lalu, Gedung ini difungsikan oleh mereka sebagai restoran dan tidak sembarang orang masuk. Gedung tersebut pun masih berbentuk sederhana seperti , gedung tersebut belum ada lampu seperti sekarang tapi masih menggunakan lampu cempor, terutama pada bagian luar. Kemudian, pada saat digunakan oleh orang-orang Eropa atau Belanda hanya digunakan oleh mereka yang menjadi saudagar-saudagarnya jadi eksklusif tidak sembarang orang bisa masuk. Pada tahun 1921, setelah terjadinya Perang Dunia I .

Gedung ini telah direnovasi yang menurut sumber Museum Konperensi Asia Afrika yaitu oleh Wolf Charles Schomaker yang pada saat itupun beliau adalah Dosen dari Presiden Sukarno semasa beliau kuliah di Technisch hoogeschool(Institut Teknologi Bandung). Gedung ini pun beberapa ada yang diubah yang dimana menurut sumber Museum Konperensi Asia Afrika yaitu Gedungnya menjadi berbentuk Art Deco yang mana sedikit menonjol bagian tengahnya.

baca juga  Fakta Menarik Seputar Konferensi Asia- Afrika 1955

Hingga pernah dijadikan juga sebagai tempat restoran yang mana hanya orang Belanda atau kalangan elite yang bisa masuk ke gedung tersebut dengan memasang spanduk yang menurut Museum Konperensi Asia Afrika yang berbunyi “ Verbonden Voor honden en Indlander”.Bukan itu saja, jalan yang kita kenal Jl.Asia Afrika pun dahulu namanya adalah “Groot Postweg”. Sebagai tambahan, menurut BandungBergerak.id. yakni Beberapa aktivitas rutin digelar di sini. Umumnya, Gedung Societeit Concordia difungsikan sebagai tempat hiburan bagi bangsa Eropa. Namun tidak hanya pesta, gedung ini juga mulai dijadikan ruang pameran dan pertunjukan yang dikelola oleh de Bandoengsche Kunskring (kelompok seni Bandung).

Gedung Societeit Corcondia sendiri Direnovasi kembali pada tahun 1930 an yang mana dibagian timur Gedung tersebut ada beberapa Kanopi sehingga dengan ditambahkanya dibagian sebelah timur yang saat ini adalah Museum KAA dahulunya tempat Ballroom atau  Schouwburg.Namun, di era tersebut, Bandung dikabarkan akan menjadi Ibu Kota Hindia Belanda dan sayangnya karena terjadinya krisis ekonomi yang tidak jadinya perancangan tersebut.Lalu, tahun 1942, Jepang telah datang ke Indonesia dan mengambil alih Indonesia termasuk Gedung Societeit Corcondia ini yang mana menurut beberapa sumber bahwa setelah diambialih Jepang, gedung tersebut diubha fungsikan menjadi beberapa bagian termasuk nama gedung sendiri seperti bagian barat dinamakan Gedung Yamato yang berfungsi sebagai restoran dan bagian timur dinamakan Daitoa Kaikan yang berfungsi sebagai Pusat Kebudayaan hingga nama jalan pun menjadi Jl. Raya Timur .

Lalu, pada saat kemerdekaan tahun 1945 telah diambil alih oleh Indonesia. Kemudian, tepat di tahun 1949 Gedung tersebut direnovasinya  oleh salah satu arsitek Bandung terkenal yang bernama Alber Federick Albers.

Setelah itu, Gedung diambil alih sepenuhnya oleh Indonesia dan salah satu yang menarik perhatian adalah digunakan sebagai cikal bakal terbentuknya Gerakan Non Blok,Dasasila Bandung,Terbentuknya negara yang sekarang kita kenal di Afrika dan sebagian Asia, serta Gerakan perdamaian yang disebut Konferensi Asia Afrika. Bukan itu saja, faktanya menurut dari Konstituante dan Demokrasi karya Muhammad Yamin 1956 mengatakan “Gedung inipun digunakan juga sebagai Konstituante”. Mengapa demikian, karena dahulu Indonesia merupakan Negara Parlamenter yang memiliki jabatan yakni Perdana Menteri . Konstituante sendiri merupakan cikal bakal DPD atau Senat di Indonesia.

baca juga  Ternyata Selain KAA 1955, Pernah Diadakan Pula KIAA 1965 Ini Sejarahnya

SEJARAH PENGUBAHAN NAMA GEDUNG DAN KONFERENSI ASIA AFRIKA

Pada saat Indonesia telah mengambil Gedung Societeit Corcondia, maka gedung berubaha menjadi Gedung serbaguna sampai pada tahun 1955 karena diwacanakan akan adanya Konferensi Internasional.

Maka, Pemerintah Indonesia beserta Gubernur Jawa Barat sanusi Hardjadinata telah melakukan renovasi habis-habisan seperti beberapa unit diubah dan nama-namanya pun diubah seperti Gedung Societeit Corcondia menjadi Gedung Merdeka, Jl. Raya Timur menjadi Jl.Asia Afrika, sampai mencabut spanduk yang pernah digunakan oleh Belanda.

Namun, Renovasi ini tidak memakan waktu lama disebabkan Presiden Republik Indonesia Sukarno saat itu telah meminta untuk segera menyelesaikan renovasinya karena akan digelar dalam beberapa bulan ini . Maka, dipercepat sehingga pada akhirnya Konferensi pun dimulai dan sampai akhir pun berjalan lancar.

GEDUNG MERDEKA SEMPAT BANJIR?

Sobat tidak salah dengar, Karena menurut The Bandung Connection karya Roeslan Abdulgani disebut di saat para Delegasi sedang istirahat atau keluar dari gedung tersebut, tepat pada pukul 12:00 WIB telah terjadinya hujan besar sehingga di salah satu atap di Gedung tersebut mengalami bocor dan sempat membajiri seluruh ruangan Delegasi. Roeslan Abdulgani selaku Ketua Join Sectariat atau panitianya sedang makan dan ketika mendapatkan kabar itu akhirnya beliau pun pergi menuju kesitu dan beliau membuka bajunya untuk membersihkan bersama staff-staffnya dan anggotanya. Pada akhirnya, di jam 15:00 WIB, telah kering dan bersih kembali sehingga acara Konferensi pun lancar kembali di Tahun 1955 tersebut.

SEKARANG GEDUNG MERDEKA DIFUNGSIKAN APA?

Setelah adanya KAA di tahun 1955, Gedung ini pun sempat difungsikan di sebagai tempat konferensi lainnya seperti Konferensi Islam Asia Afrika, Konferensi Mahasiswa Asia Afrika, dalam perkembangnya Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pernah berkantor disini (1960- 1971) dan sebelumnya di tahun 1959 pernah digunakan menjadi Kantor Badan Perancang Nasional (Bapenas). Sebagai informasi Museum Konperensi Asia-Afrika dan Gedung Merdeka berada dalam naungan yang berbeda hingga kini meskipun terus bersinergi bersama.

Museum Konperensi Asia-Afrika berada dibawah naungan Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Kementrian Luar Negeri dan secara resmi dibuka sejak 24 April 1980 oleh Presiden Soeharto bertepatan dengan peringatan 25 tahun KAA. Sementara Gedung Merdeka pengelolannya berada dibawah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Bandung.

Penulis: Edukator/ Senore Arthomy Amadeus

Editor:  JT/ Muhamad Iqbal Alhilal

Share :

Baca Juga

Berita

Arti dan Makna Penting Dasasila Bandung Hasil Komunike Akhir KAA 1955

Sejarah

Museum Preanger Penghormatan Untuk CP.Wolff Schoemacker

Sejarah

Fakta Menarik Seputar Konferensi Asia- Afrika 1955

Sejarah

Pernah Melihat Bangunan Dengan Tulisan Swarha di Alun-Alun Bandung Ini Fakta Sejarah Dibaliknya

Sejarah

Wisata Kuliner Nusantara Orang Eropa di Masa Kolonial

Sejarah

Wisata Alam Bandung di Masa Kolonial

Sejarah

Perjalanan Sejarah Gedung Dwi Warna Dari Masa ke Masa

Sejarah

Selain Jadi Tempat Menginapnya Delegasi KAA, Hotel Preanger Ternyata Pernah Kedatangan Charlie Chaplin dan Amelia Earthart Lho